You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Sesepan
Desa Sesepan

Kec. Balapulang, Kab. Tegal, Provinsi Jawa Tengah

Sejarah Desa Sesepan

Administrator 09 November 2023 Dibaca 47 Kali
Sejarah Desa Sesepan

Asal Usul Berdirinya Sesepan

Pada tahun 1580-an, ada seseorang Kyai bernama Kyai Sutopo alias Syeh Mudzakir seorang guru agama dan olah kanuragan, beliau mempunyai murid yang terkenal yaitu Moyowongso, Moyowongso adalah seorang parjurit dari Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung pada waktu itu, dalam keprajuritanya Moyowongso berpangkat Demang, karena dalam peperangan beliau selalu unggul, maka diberi gelar oleh Sultan Agung dengan gelar Suradilaga.

Kyai Demang mempunyai beberapa anak, diantaranya bernama Kyai Syarifah. Pada Tahun 1602 bersamaan dengan berdirinya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau dalam bahasa Indonesia disebut Perusahaan Hindia Timur Belanda di Indonesia, pada saat itu Kyai Demang pindah ke pedukuhan dimana gurunya berada atau Kyai Sutopo berada dan pedukuhan tersebut belum ada namanya.

Pada Tahun 1604 menikahlah Kyai Syarifah dengan Nyi Ronggeh, Nyi Ronggeh adalah sosok seorang wanita yang paham dan mumpuni di bidang pemerintahan, pada tahun tersebut, maka pedukuhan tersebut dinamakan Sesepan. Nyi Ronggeh pada tahun 1617, bersama dengan Ki Gede Sebayu seorang ulu-ulu yang ada di Danawarih, dua orang tersebut adalah mediator utama dalam pembentukan berdirinya Kabupaten Tegal.

Asal Mula Pemberian Nama Sesepan

Pada Tahun 1604, Kyai Demang mempunyai seorang Pekatik (adalah orang yang merawat Kuda peliharaan Kyai Demang), yang bernama Kyai Kenyam, pada waktu itu Kyai Kenyam akan mencari rumput dari Bukit sebelah timur dan akhirnya sampai ke pedukuhan Renon, disitu tinggal seorang Bupati Renon, Kyai Kenyam singgah di kediaman Bupati Renon tersebut, tetapi tidak ada di rumah, katanya sedang memandikan jago di daerah Kopoan (tempat khusus memandikan ayam di daerah Renon), maka Kyai Kenyam menuju ke Kopoan untuk menemui Bupati tersebut, dan bertemu dengan Bupati Renon yang sedang memandikan Jago kesayanganya yang berbentuk atau ules atau warna bulu abang pernatas.

Setelah bertemu dengan Bupati Renon, Kyai Kenyam bertegur sapa dan menyampaikan “Kanjeng Bupati, Kyai Demang ugi kagungan Jago, menawi jeng Bupati kerso, cobi di Aben” (Kanjeng Bupati, Kyai Demang juga mempunyai Jago, kalau Bupati berkenan, coba di adu).

Singkat cerita, sang Bupati menemui Kyai Demang di pedukuhan tempat tinggal Kyai Demang, dan menanyakan pada Kyai Demang “Ki Demang moro nggonku, jarene sliramu duwe jago, ayo diadu” (Ki Demang ke tempatku, katanya anda punya jago, ayo di adu), berhubung Kyai Demang tidak mempunyai jago, Kyai Demang bingung dan menjawab “ Oh nggeh, jagone saweg teng jawi, mangke tak padosi” (Oh ya boleh, Jagonya sedang di luar, nanti saya cari dulu).

Kyai Demang berpikir dan berkata dalam hati “wah kurang ajar Kenyam, Aku tidak punya jago untuk diadu”, dan Kyai Demang pergi mencari dan di tengah perjalanan menemukan ayam jago hitam, tetapi dikejar dan ayam jago tersebut lari ke arah pohon asem besar dan masuk ke dalam pohon tersebut, Kyai Demang bingung mengeluarkan ayam tersebut dan merogoh pohon tersebut, dan ternyata memegang batang (galih) di tengah pohon asem, setelah di tarik batang yang berwarna hitam mulus, dan Kyai Demang berucap “Kowe galih, asalmu seko jago, balio dadi jago” (kamu batang, asalmu dari Jago, dan berubahlah menjadi jago), maka berubahlah batang tersebut menjadi seekor ayam jantan berwarna hitam, bermahkota lebar (lamba) tanpa pial, maka ayam tersebut dinamai Liring Galih atau Sawung Galih, dan ayam tersebut dibawa pulang untuk diadu dengan Ayam Bupati Renon, maka terjadi adu jago dari jam, dan berhari-hari tidak berhenti dan tidak ada jeda, karena mungkin kecapean jago tersebut istirahat di malam hari dan dicari oleh Bupati Renon dan Kyai Demang tetapi tidak ketemu, ternyata keesokan harinya sedang mendekam dibawah semak-semak atau kata orang jawa bilang nylesep, maka tertawalah sang Bupati dan Kyai Demang “wah, digoleki koq nylesep neng kene” (wah, dicari koq malah mendekam disini), maka pada saat itulah pedukuhan tersebut dinamakan Sesepan yang berasal dari kata Nylesep.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2022 Pelaksanaan

Pendapatan Desa
Rp 18.000.000,00 Rp 18.000.000,00
100%

APBDes 2022 Pendapatan

Dana Desa
Rp 18.000.000,00 Rp 18.000.000,00
100%

APBDes 2022 Pembelanjaan

CodeIgniter